- Admin Setda
- Read Time: 1 min

Purwodadi— Tiga abad perjalanan Kabupaten Grobogan bukan sekadar penanda usia, melainkan proses panjang yang membentuk karakter dan arah pembangunan daerah. Peringatan Hari Jadi ke-300 menjadi momentum untuk meneguhkan kembali semangat melanjutkan perjuangan para pendahulu, sekaligus merefleksikan capaian yang telah dirintis secara bertahap.
Pemerintah Kabupaten Grobogan menyelenggarakan prosesi adat Boyong Grobog, Selasa (3/3/2026), sebagai penanda sejarah perpindahan pusat pemerintahan dari Kelurahan Grobogan ke Purwodadi pada tahun 1864. Tradisi ini menjadi bagian dari ikhtiar menjaga ingatan kolektif sekaligus memperkuat identitas daerah.
Prosesi dimulai pukul 07.30 WIB dengan kirab pusaka dari Pendapa eks-Kawedanan menuju Kantor Kecamatan Grobogan. Pusaka keris diserahkan secara simbolis oleh Camat Grobogan kepada Bupati Grobogan, Setyo Hadi.
Setelah kesiapan piranti dan pangombyong dilaporkan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Anang Armunanto, Bupati memberangkatkan rombongan melalui pemukulan gong sebagai tanda dimulainya kirab. Rombongan dipimpin Bupati bersama Wakil Bupati H. Sugeng Prasetyo, didampingi unsur Forkopimda serta jajaran pimpinan DPRD, kemudian bergerak menuju Pendapa Kabupaten.
Dalam sambutannya, Bupati Setyo Hadi menyampaikan bahwa bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Grobogan, pihaknya berkewajiban melanjutkan perjuangan para Adipati terdahulu yang telah meletakkan dasar pemerintahan dan pembangunan daerah.
“Pangajabing manah kulo mugi-mugi sedaya warga Kabupaten Grobogan sansaya makmur, raharja, saha mulya gesangipun,” ujar Bupati.
(Harapan dan doa saya, semoga seluruh warga Grobogan semakin makmur, sejahtera, dan mulia kehidupannya.)
“Sumangga sami gumreget, gumregut, gumregah cancut taliwanda, sesarengan ambangun Kabupaten Grobogan.”
(Mari bersemangat, bergerak, dan bekerja keras bersama membangun Grobogan.)

Di Pendapa Kabupaten turut hadir Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, putra daerah Grobogan. Ia membagikan kenangan masa kecil ketika kondisi jalan masih banyak yang belum memadai dan ketersediaan air bersih saat kemarau terbatas. Perubahan yang terjadi hingga saat ini, menurutnya, menunjukkan pembangunan berjalan secara bertahap dan terus diupayakan agar semakin merata.
Ia juga menegaskan peran Grobogan dalam mendukung swasembada pangan nasional serta membuka ruang komunikasi apabila terdapat kendala di lapangan, termasuk persoalan pupuk, agar dapat ditindaklanjuti melalui koordinasi yang baik.

Menurutnya, berbagai program dan kegiatan pertanian ke depan akan mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Pertanian, baik dalam bentuk penguatan sarana prasarana, peningkatan produktivitas, hingga pengembangan inovasi pertanian modern. Dukungan tersebut diharapkan mampu mendorong kesejahteraan petani sekaligus memperkuat posisi Grobogan sebagai lumbung pangan strategis.
Sebagai bagian dari prosesi, dihadirkan 21 gunungan hasil bumi yang menjadi simbol rasa syukur atas potensi daerah. Gunungan tersebut mencerminkan kekuatan sektor pertanian dan kerja kolektif masyarakat yang selama ini menjadi fondasi utama Grobogan.
Pada hari yang sama, di halaman Sekretariat Daerah digelar Gerakan Pangan Murah oleh Dinas Pangan Kabupaten Grobogan. Program ini menyediakan paket sembako hasil kolaborasi dengan BUMD dan BUMN, serta melibatkan UMKM dan retail modern, guna membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
Melalui peringatan tiga abad ini, sejarah tidak berhenti sebagai seremoni. Ia menjadi pijakan untuk menata langkah ke depan—agar pembangunan yang dirintis para pendahulu terus dilanjutkan secara konsisten dan memberi manfaat yang semakin luas bagi masyarakat Grobogan. (jsa)




