Grobogan - Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Grobogan Dr. Ir. Mohamad Sumarsono, M.Si mengajak segenap Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan untuk bersiap menghadapi adanya potensi kekeringan yang cukup panjang.
“Menurut informasi dari BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), bahwa tahun 2023 ini nanti akan ada El Nino di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Konsekuensinya akan terjadi kemarau yang cukup panjang”, ujar Sekda Sumarsono.
Lanjutnya, “Oleh karena itu, mulai sekarang barangkali kita sudah harus siap-siap, seandainya suatu saat nanti misalnya ledengnya macet atau airnya berkurang. Temen-temen yang menangani kekeringan mulai sekarang harus bersiap-siap. Anggarannya tersedia atau tidak, mulai sekarang harus sudah dipersiapkan dikerjakan mulai dari sekarang”.
Itu disampaikan Dr. Ir. Mohamad Sumarsono, M.Si saat memberikan arahan pada apel pagi karyawan-karyawati di lingkungan Sekretariat Daerah (Setda), BAPPEDA, BPPKAD, dan Satpol PP Kabupaten Grobogan, Senin (19/6/2023).
Persiapan menghadapi potensi kekeringan ini perlu menjadi perhatian mengingat potensi air tanah di Kabupaten Grobogan itu relatif sulit. Sehingga diperlukan berbagai upaya atau skenario bilamana kekeringan datang melanda agar masyarakat tidak mengalami kesulitan.
“Memang potensi air, terutama air tanah di Kabupaten Grobogan relatif sulit, satu-satunya cara yang bisa kita lakukan saat ini adalah dengan cara dropping air melalui mobil tangki”, ujarnya.
Pihaknya juga mengingatkan pesan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat berkunjung ke Kabupaten Grobogan beberapa waktu lalu tentang urgensi memanen dan mengolah air hujan sebagai salah satu solusi menghadapi kekeringan.
“Tolong BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah), tolong nanti dicoba, dilakukan memanen air di Kabupaten Grobogan. Atau begini, jika di suatu wilayah setiap saat ada kekeringan, di kampung itu dibuat semacam tandon air. Jadi misalnya, dropping air dari mobil tangki itu masuknya ke tandon air kemudian nanti dialirkan ke masyarakat. Barangkali itu juga perlu dipikirkan”, terangnya.
Dilansir dari ugm.ac.id, menurut pakar hidrologi Fakultas Teknik UGM, Agus Maryono, memanen dan mengolah air hujan dianggap menjadi salah satu solusi efektif untuk mencegah banjir, kekeringan serta memenuhi kebutuhan akan air berkualitas. Kata dia, memanen air hujan bisa dengan memakai bak penampungan atau mengalirkannya ke sumur. Air hujan dari atap dapat dialirkan melalui pipa ke sumur atau bak penampung.
Menurut Agus, air hujan di Indonesia juga masih sangat layak untuk dikonsumsi. Dia pernah 20-an kali meneliti tingkat keasaman air hujan di berbagai daerah, termasuk Jogja, Bali, Bogor dan Jakarta. Riset itu menyimpulkan rata-rata tingkat pH (potential hydrogen) air hujan di sejumlah daerah tersebut adalah 7,2 sampai 7,4. Artinya, secara kualitas, air hujan di Indonesia masih layak diminum manusia.
(Protkompim— JSA)