Grobogan - Guna mencegah berkembangnya intolerasi di Indonesia, khususnya di Kabupaten Grobogan, Wakil Bupati (Wabup) Grobogan dr. Bambang Pujiyanto, M.Kes. mengingatkan bahwa sejarah berdirinya bangsa Indonesia adalah kumpulan manusia-manusia yang tidak sama asal usulnya dan tidak serupa sifat-sifatnya. Dengan kata lain, Indonesia lahir dari rahim keberagaman, dan melalui persatuan, Indonesia menjadi negara-bangsa yang merdeka.
“Indonesia adalah kumpulan manusia-manusia yang tidak sama asal usulnya dan tidak serupa sifat-sifatnya. Artinya Indonesia lahir dari keberagaman. Itu adalah anugrah dari Tuhan yang harus kita syukuri. Sejarah mencatat bahwa melalui persatuanlah kita dapat menjadi Negara merdeka”, ujar Wabup Bambang Pujiyanto.
“Pemahaman ini harus diwariskan pada generasi penerus bangsa ini, sehingga semua menyadari bahwa kita semua harus menjunjung tinggi nilai-nilai persamaan dalam perbedaan, tidak ada istilah warga Negara kelas dua maupun tidak ada diskriminasi bagi seluruh warga”, imbuhnya.
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber pada program acara Dialog Interaktif Purwodadi FM dengan tema “Toleransi dalam Keberagaman di Masyarakat”, Rabu (7/6/2023).
Selain menghadirkan Wabup Bambang Pujiyanto, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Grobogan Drs. Daru Wisakti, Msi, juga didapuk sebagai narasumber.
Selain menghadirkan Wabup Bambang Pujiyanto, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Grobogan Drs. Daru Wisakti, Msi, juga didapuk sebagai narasumber.Wabup Bambang Pujiyanto menyebut tingkat kerukunan dan toleransi umat beragama di Grobogan masih sangat terpelihara. Hal itu ditunjukkan bukti-bukti empiris seperti masyarakat yang saling bergotong-royong, menggalang solidaritas antarumat beragama saat penanganan Covid-19, serta pelaksanaan kegiatan keagamaan dapat berjalan dengan aman dan damai.
Lanjutnya, semasuki tahun politik, Wakil Bupati (Wabup) Grobogan dr. Bambang Pujiyanto, M.Kes. berpesan agar masyarakat tidak terpancing dengan adanya politik identitas. Menurutnya, mempolitisasi identitas dengan cara menjelekkan kelompok atau golongan lain sangat riskan memicu konflik antar golongan. Terlebih jika yang dipolitisasi menyangkut isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).
“Sebenarnya yang tidak baik adalah jika kita mempolitisir identitas dengan cara menjelekkan kelompok atau golongan lain. Hal itu akan berdampak pada konflik antar golongan. Apalagi jika yang dipolitisir adalah isu terkait SARA”, ujar Wabup Bambang Pujiyanto.
Lanjutnya, “Seharusnya seluruh Paslon (Pasangan Calon) atau peserta Pemilu menjual dan beradu Visi, Misi, Program serta rekam jejak. Bagi masyarakat, saya berpesan agar jangan ikut terpancing adanya politik identitas. Berbeda pilihan boleh, namun tetap saling menghormati dan menghargai”.
Pihaknya berharap jika di masyarakat muncul riak-riak perbedaan agar menyikapi dengan bijaksana dan mengedapankan musyawarah. Menurutnya, perbedaan paham seringkali terjadi hanya karena persoalan perbedaan sudut pandang.
“Perbedaan paham seringkali hanyalah persoalan sudut pandang saja. Oleh karena itu duduk bersama adalah solusi. Saya sangat yakin masyarakat kita cinta damai, cinta kerukunan, cinta persatuan. Mari kita pertahankan! ,” pungkasnya.
(Protkompim— JSA)